Kamis, 14 Agustus 2014

LUKA DI UJUNG SENJA



LUKA DI UJUNG SENJA


            “Julian DwiPramana! Selamat! Kauterpilihmenjadiketuaumumosis SMPN 2 Kota Batuperiode 2014-2015” pengumumanpemilihanketuaosistelahdisampaikanolehBapak Ali di ataspodium saatapelpagi. Soraktepuktangaanmeriahmenjadiinstrumensekilaspagiitu, memberioplos pada Julian yang telahterpilihmenjadiketuaumumosis di sekolahku.
            “Selamatya! Julisayang!” ujarkuketika Julianpacarkumenghampiriku di tengahhalamansekolahselesaiapelpagi. “makasihya, Senjaku yang indah.” Balasnyasembarimenyalamiku.
            “Hay Julian! Selamatya Pak Osis, dan IbuOsis yang baru. Ha…ha…” teriakIrsyaddarijaraksepuluh meter di depan kami. Murid yang paling aneh yang pernahkukenal. Tingkahlakunya yang seperti orang gilaitumembuatkurisihbertemandengannya. Yang lebihparahlagiakuharussatukelasdengannyaselamatigatahun, di kelas X IPS 3. Tapiuntungnyaakuselalusedia earphone di balikkerudungkusaat orang itukumat.
                                                            
                                                                        ***

            Tigabulansudah, Julian menjadiketuaosis, dankini kami sudahnaikkekelas XII. Semenjaksaatitu pula akumerasaperhatiandankasihsayang Julian mulaiberkuranguntukku. Akutahudiasibukdenganproker-prokerosis yang diaembansekarang. Tapiperilaku Julian padakujugaberubah.
            Dulu, setiapjumat sore kami selalupergikebukitbelakangsekolahuntukmenikmatiindahnyasenja sore hari. Tapiakhir-akhirini, Julian hampirtidakpernahmengajakkukesanalagi. Sampaisuatuhari, bertepatandenganhariulangtahunku, Julian mengajakkukebukititu. Akusenangsekali, dankebahagiaan yang sempatpudarsudahmulaitumbuhkembali.
            Hinggasenjamulaidatang, kami masihduduk di bawahpohon paling tinggi di bukititu, bercerita, bercandatawa, pokoknyabahagiasekalihatiku sore itu. “senja yang cantik, tapi masih lebih cantik Senja yang adadisampingkusaatini” ucapnya. Laludiamenatapku, danakumembalasmenatapnyadan memberisenyummanispadanya.
            Tiba-tiba, handphone Julian bergetar, laludiamengangkatnya, adaseseorangberbicara di balikhandphoneitu. sedetikkemudiankulihatekspresiwajah Julian seperti orang kehilangansesuatu yang penting. Tak lama suaraituhilang, Julian kembalimenaruhhandphonenyakedalamsakujasosisnyadanmenatapku.
            “Ada apa?” Tanya kupenasaran. “Senja, emm… maafin aku, akuharuspergisekarang.” Jawabnyapelan. “Pergi? Tapikenapa?” tanyakulagi. “eenngg... Ada urusanosis yang haruskuselesaikansekarangjuga. Kamunggakapa-apakanakutinggal? Karenaakuharus pergikesekolahsekarangjuga.” Jelasnya. Belumsempatakumengungkapkan kata-kata, “Maafya!” lanjutnyasambilmenyalamikudanlangsungberanjakmeninggalkankubegitusaja.
\           akutidakbisamenghentikankepergiannya. Sekarangtinggallahaku seorang diri di bawahpohonitu. menatapsenja yang mulaimemerahdarah. “Tuhan, barusajaakumerasakankebahagiaanku yang sempatmeninggalkanaku, tapikenapaKaubegitucepatmengambilnyakembali?” batinku.
            Takterasa air matamulaiberlinang di pipiku, membasahikerudungparisbiru yang kukenakansaatitu. Tiba-tiba, “Senja!” suaraitumembangunkankudarilamunanku, saatkutolehkebelakangsosoklaki-lakitengahberdiritakjauhdaripohonitu. “Irsyad!” sontak aku langsung mengusap air mata yang sempat menggenang di wajahku.
            Laludiamenghampiriku, “Bolehakududuk di sini?” Tanya Irsyad. Akuhanyamengangguk. “Kamungapaindisinisendirian? Julian mana?” hanyaduapertanyaan yang dialontarkanpadakunamunsudahbisamembuatkubertambahsedih.
            “Lohkokmalahnangis?” tambahnyalagi. Akuterkejutdanmulaimengusap air mataku. “Tidak. Akutidaknangis, hanyakelilipansedikit.” Elakku. Maafangin, akutakbermaksudmenyalahkanmu. Padahalkaubertiupsangatlembutsenjaini, bahkan debupun enggan terbang bersamamu. Sekalilagimaafkanakuangin. Ujarkudalamhatiku. Sejenaksuasanamenjadihening.
            “Oh ya! Kamumau main nggak?” tawarnya. “Main?(MenatapIrsyad) main apa?” tanyakupenasaran. Sepertinyadia tau suasanahatikusaatini. Batinku. “Mmm… kita main kejartangkap. Jadigini, akukejarkamu, kalaukamukena, gentian kamu yang ngejar. Gimana?” Jelasnya. “Baik! Sapa takut!” tantangku.
            “sip dah. Aku yang jadi duluan ya! Aku itung sampe tiga ya!” ujar Irsyad yang kubalas dengan senyum kepahaman. “satu... dua...” lanjutnya, aku sudah bersiap untuk berlari menghindarinya. Tapi. “tiga. Kena! Kau jaga.” Lanjutnya tiba-tiba hingga membuatku terkejut dan langsung menjauh dariku. “Ah... kamu curang Irsyad!” eluhku, “A a... tangkap aku dulu.” Ejeknya. Sedetik kemudian suasana berubah menjadi menyenangkan, seperti ada yang menghibur hati ini.
            Lebih dari lima menit kami bermain kejar-kejaran hingga memaksa kami untuk menyudahi permainan ini dan kembali duduk bersandar di bawah pohon tadi. “Capek juga ya rupanya.” Ucapnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Aku tidak bisa membalas ucapannya.
            “sungguh senja yang indah, aku ingin selalu melihat indahnya senja sore hari di sini. Forever. Iyakan Senja!” tukas Irsyad. “Degh!” perkataan yang hampir mirip dengan yang dikatakan Julian beberapa menit yang lalu, membuatku seperti jatuh dari langit ke tujuh tanpa ada alas empuk yang menahan badanku. Sakit sekali. Kesedihan yang sempat sirna mulai merambat di hati ini. Lagi.
            “Aku ingin pulang!” ucapku tiba-tiba. Tanpa memberi kesempatan bagi Irsyad merespon perkataanku, aku bangkit dan langsung pergi meninggalkan dia. “TUNGGU!” teriak Irsyad, aku menoleh, “Aku anter ya!” lanjutnya. Aku hanya mengangguk dan akhirnya kami pulang bersama.
            Sesampainya didepanrumahakulangsungturundanmeninggalkanIrsyadbegitusajatanpamengucapsepatah kata apapun. Tapi “Senja! Tunggu!” panggilIrsyad. Akukembalimenoleh. “Happy birthday ya!” ucapnyapelandengansenyummanis yang mengembang di wajahnya.
            Akuhanyamembalasucapnnyadengansenyumkecildanlekasmasukrumah. Sampai di dalamkulihatIrsyadsudahakanmenancap gas sepedamotornya. SedetikkemudianIrsyadsudahmenghilangdaripandanganku. Akukembalikeluarrumah, melihatIrsyad yang sudah di telantikungan. Tuhan, kenapa orang yang sangatkuharapkan di harispesialkuinimalahpergimeninggalkanaku, dan orang yang samasekalitidakpernahterbentangnamanyadipikirankumalahhadirmenemaniharispesialku. KenapaTuhan? Gumamkudalamhati.
            Air matamulaikembaliberlinang di pipikudanmembasahikerudungparisbirukulagi. Membayangbetapaindahdanmenyakitkanharikubeberapajam yang lalu. KenapaharusIrsyad? Orang yang sangatmenyebalkan. Kenapabukan Julian? Orang yang sangatkucintai. KenapaakulebihnyamandenganIrsyad?
            Bebagaipertanyaanmengguyurkepalaku, hinggamembuatkupusingdanmemaksakuuntukmerebahkantubuhini di atas Kasur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar