ROKOK TERAKHIR
By : Deny Agung Styo Bintoro
“Bruukk!” aku memukul meja warung dengan
keras, hal itu membuat temanku, Joni,
yang sedang duduk santai di warung sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang
rokok di tangannya itu terkejut. Dia menatapku dengan pandangan anehnya. “kau
kenapa sih Ndrik? Biasa aja kali!” tegurnya. Aku membalas tatapannya dengan
ketus seraya membalas perkataannya. “bagaimana mau biasa. Kau tau nggak, Via
mutusin aku tanpa sebab yang pasti Jon, bagaimana aku mau santai? Padahal aku
sudah memberikan apapun maunya, aku juga sangat mencintainya, but why?”.
Joni
tak mendengar ocehanku, dia malah asik meminum kopinya dan dilanjutkan menyedot
rokoknya. “kau dengerin aku nggak sih Jon?” bentakku, saat ini aku memang dalam
keadaan yang menyakitkan hatiku, jadi tak salah jika aku dari tadi marah-marah.
Meskipun begitu Joni tetap tak menganggap itu persoalan penting. Dia berdiri
dan memegang pundakku dan mengajakku duduk. “sudahlah, wanita memang seperti
itu. Mungkin dia sudah bosan denganmu.” Mendengar kalimatnya aku langsung
menatapnya dengan ketus. “nih, coba kau rasakan nikmatnya benda mungil ini!”
Joni menyodorkan rokoknya kepadaku, “maaf, meski aku sedang ada masalah, tapi
aku sudah janji pada ibuku untuk tidak merokok”. Aku menolak permintaannya,
tetapi Joni tetap memaksaku untuk melakukannya.
Joni
terus memaksa, lama kelamaan bentengku untuk menolak akhirnya melemah dengan
rayuan Joni. Dengan rasa ragu dan bimbang aku mengambil rokok di tangan Joni,
ku tatap dengan penuh hati benda mungil yang mengeluarkan sedikit asap itu.
“ayolah… coba saja! Nggak bakalan mati kok!” rayunya lagi lebih mendalam.
Dan
pada akhirnya akupun menghisap benda mungil itu. “uhk… uhk… uhk…” aku tersedak
saat menghisapnya. “ha ha ha… enakkan?” Joni menertawakanku, sepertinya dia
senang kali dengan keadaanku yang batuk-batuk. Aku menampakkan muka mrengutku
padanya. “ayo, coba terus, memang begitu saat pertama kali mencoba rokok. Hisap
pelan-pelan, rasakan asapnya melewati semua tulang-tulang tubuhmu dan keluarkan
pelan-pelan” jelasnya dengan nada syahdu.
Setelah
dirasakan sepertinya memang enak juga rokok ini. Lalu aku menghisapnya yang
kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya aku menghabiskan rokok milik Joni
itu. Joni memang benar, setelah menghisap rokok itu dan merasakan asapnya
seperti melintasi semua tulang-tulang ini, tubuhku terasa semakin ringan.
Serasa semua masalah ku ikut tertiup angin bersama dengan asap rokok yang ku
keluarkan dari mulutku.
“Ini!”
Joni memberikan ku sebatang rokoknya lagi, dan aku langsung menerimanya.
Selanjutnya kami bersama-sama enjoy menikmati kopi dan rokok di tangan kami.
Sejenak
suasana menjadi sunyi. Joni yang biasanya banyak omong sekarang memilih untuk
diam, mungkin dia memberikan waktu
untukku berpikir santai kembali, menghilangkan semua masalahku. Tak terasa jam
tangan sudah menunjuk pukul satu siang. Memang sih sekarang hari minggu, tapi
sudah kebiasaan ku untuk pulang tepat waktu, yakni jam satu siang.
“Aku
balik dulu lah!” kata ku sambil membuang punting rokok lalu menginjaknya.
“balik? Nggak seru kau, masak masih jam satu sudah pulang. Sekarangkan hari
minggu, hari untuk kita refreshing dari semua pelajaran membosankan di
sekolah.” Sahut Joni seperti rasa tak setuju dengan kata ku. “terserahlah”
balas ku ketus, seraya mulai meninggalkan Joni di warung.
“Hoi!”
teriak Joni. Dia melemparkan satu pack rokok L.A pada ku. Aku tidak tau apa
maksudnya ini. “buat saku mu, nikmati hidupmu. Ingat kata ku, kau aktif kau
mati, kau pasif kaupun juga akan mati. Jadi nikmati aja selama masih bisa.”
Teriaknya lagi, kali ini dengan senyum yang menyemangati. Joni memang sahabat
baikku mulai kami duduk di SMP hingga sekarang dia masih setia menemani aku dan
mendengarkan semua masalahku dan membantunya. Meski terkadang dia juga tidak
terlalu menghiraukanku.
Sampai
di rumah aku langsung ke kamar mandi mengambil wudlu
lalu langsung melaksanakan sholat dhuhur. Sesudah itu aku berbaring terkapar di
atas kasur kamarku, memikirkan semua yang terjadi hari ini. Bagaimana bisa Via
mutusin aku? Kenapa dia mutusin aku? Apa alasannya? Kenapa dia bilang semua itu
semudah itu pada ku. Seperti wajah tanpa dosa saja. Apa dia tidak menghargai
semua apa yang telah kulakukan padanya.
Aku
tidak habis pikir semua itu terjadi begitu saja. Aku bangun dari tidur ku, dan
menengok jendela kamarku yang menghadap langsung menuju taman depan rumah dan
dilanjutkan ke jalan desa. Kulihat pohom jambu besar di sana, burung-burung
terbang ke sana kemari dengan cerianya. Aku meraba saku ku hendak mengambil HP nokia ku disana, namun yang ke pegang bukanlah HP
melainkan se-pack rokok L.A 16.
Aku
ambil sebatang rokok di dalamnya, ku pandangi rokok itu, tersirat pikiran aneh
dalam otak ku, “padahal benda ini kecil, dan hanya berisi tembakau dan filter
sebagai penyaringnya. Juga hanya bisa mengeluarkan asap yang membuat sesak di
dada. Tapi kenapa banyak orang yang menyukainya? Dan kalau di pikir, aku mulai
menyukai benda mungil ini.”
Tak
lama ku ambil korek api di meja tidurku, lalu menaruh sebatang rokok ku di mulut
ku. Pelan-pelan ku hidupkan korek api itu dan ku dekatkan pada ujung batang
rokok, lalu menyalah rokok di mulutku itu. Aku menghisapnya dalam-dalam, dan ku
keluarkan secara perlahan asapnya dari mulutku. Ku bayangkan wajah Via di asap
yang tertiup angin keluar melalui jendela kamarku.
Tiba-tiba
pintu kamar ku terbuka, ku lihat sepasang kaki mulai masuk melalui gang kecil
itu. “Astaghfirullahal’adzim nak, cepat buang rokok itu! Kan Ibu dah bilang ke kamu jangan merokok, itu berbahaya
buat kamu!” ternyata yang masuk ke kamarku adalah Ibuku. Ibu langsung marah-marah padaku saat melihat
ku merokok. Memang aku di larang keras untuk melakukan hal itu.
“Apa kau nggak dengar nak? Cepet buang! Bapak aja
nggak ngrokok, kamu yang masih SMA sudah ngrokok.” Teriaknya lagi sambil
mendekatiku. Beliau merebut paksa rokok yang ada di tangan ku namun aku terus
mengela. “Ibu kenapa sih? Ganggu orang lagi santai
aja.” Balasku dengan ketus. “kau kan tau sendiri nak, kalau rokok itu akan
membahayakan nyawamu.” Sempat terjadi perdebatan antara aku dan ibu. “kenapa
sih bu aku nggak boleh merokok? Lagian meski nggak merokok aku pasti akan mati
juga kan!? Ya lebih baik aku nikmati aja hidup ini, lagian aku juga masih tetap
mgerjakan sholat, belajar, dan tidak sampai mabuk-mabukan, iya kan?” balas ku.
“tapi tetap saja…” perkataan ibu ku potong tiba-tiba, “ya sudahlah aku mau
keluar dulu. Aku mau nge-print tugas sekolah ku buat besok. Aku pergi dulu!”
tanpa mengucapkan salam aku langsung keluar kamar dan bergegas pergi.
Saat
di halaman ku lihat ibu dari jendela rumahku, beliau terlihat sedih saat aku
merokok, tidak tau kenapa aku di larang sangat keras untuk merokok. Tak
mempedulikan itu aku langsung menuju warnet dekat rumah, dan meng-print out
tugas bahasa Indonesia ku.
Saat keluar dari warnet tiba-tiba “bruuuukkk…”
aku tertabrak sepeda motor, stelah itu aku tidak sadar sama sekali. Setelah
sadar aku sudah ada di klinik di desa ku. Di sampingku sudah ada ibuku yang
berdiri menemaniku. Ku rasakan air matanya jatuh
menetes di tanganku. “afwan ya ummi!”
“la ba’tsa. Ini salah ibu, seharusnya
Ibu tak memarahimu tadi.” Suara ibu terdengar begitu menyesal. Sungguh aku tak
bisa melihatnya.
“kalau boleh tau, bapak meninggal karena
apa bu? Sepertinya ibu menyembunyikan sesuatu yang tidak aku tahu?” Tanya ku
penasaran. Bapak sudah meninggalkan aku sejak aku masih umur 3 bulan. Dan
sampai sekarang aku masih belum tahu apa penyebab meninggalnya bapak. Jika di
Tanya, ibu selalu menjawab, “belum saatnya kau tau. Dan sebaiknya kau tak
pernah tau.” Dan sekarang aku bertanya lagi pada ibu, tapi apa kali ini ibu mau
jujur apa tidak padaku.
“sepertinya memang saatnya kau tau
semuanya tentang bapakmu.” Sepertinya ibu memang benar-benar mau jujur pada ku
kali ini. “dulu waktu ibu baru menikah dengan bapak, bapak adalah seorang
perokok aktif. Hari-harinya tak pernah ada namanya sepi akan rokok. Sampai saat
ibu mengandungmu 9 bulan, bapak di fonis terkena kanker paru-paru akibat dari
kebanyakan merokok. Hal itu sangat memukul ibu dan bapak. Dokter sudah meminta
bapak untuk berhenti merokok, tapi bapakmu masih tetap saja merokok hingga pada
usia mu yang ke 3 bulan, bapak menghembuskan nafas terakhirnya dengan rokok
terakhirnya di tangannya. Itulah kenapa ibu melarang keras untukmu tidak
merokok, ibu hanya takut kejadian itu terjadi untuk kedua kalinya.”
Tuhan, apa yang telah ku buat? Aku
merasa bersalah sekali karena tak mendengar larangan ibu beberapa jam yang
lalu. “maafkan Andrik karena tak mendengar larangan ibu. Andrik nggak tau bu
kalau semua itu ada permasalahannya. Andrik berjanji tidak akan merokok lagi
bu. Saat itu Andrik sedang ada masalah dengan Via, secara tiba-tiba dia mutusin
Andrik tanpa sebab pasti bu, lalu Andrik marah-marah. Tapi saat di warung mbah
Jem, Andrik di rayu Joni untuk merokok, awalnya memang nggak suka bu, tapi
lama-kelamaan Andrik ketagihan. Maafkan Andrik bu.” Sesalku sambil ku peluk
tubuh ibu.
Hangat. Begitu hangat pelukan ibu. Dan itu masih ibu, belum bapak.
Seandainya bapak masih hidup pasti aku akan bisa merasakan hangat damainya
pelukan sebuah keluarga. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Ku peluk lebih erat
lagi tubuh ibu, “sekali lagi, maafkan Andrik bu, maafkan anakmu yang telah
menyakiti hati mu, Ibu!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar