Jumat, 18 April 2014

cerpen ku



ROKOK TERAKHIR
By : Deny Agung Styo Bintoro
“Bruukk!” aku memukul meja warung dengan keras, hal itu membuat  temanku, Joni, yang sedang duduk santai di warung sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok di tangannya itu terkejut. Dia menatapku dengan pandangan anehnya. “kau kenapa sih Ndrik? Biasa aja kali!” tegurnya. Aku membalas tatapannya dengan ketus seraya membalas perkataannya. “bagaimana mau biasa. Kau tau nggak, Via mutusin aku tanpa sebab yang pasti Jon, bagaimana aku mau santai? Padahal aku sudah memberikan apapun maunya, aku juga sangat mencintainya, but why?”.
            Joni tak mendengar ocehanku, dia malah asik meminum kopinya dan dilanjutkan menyedot rokoknya. “kau dengerin aku nggak sih Jon?” bentakku, saat ini aku memang dalam keadaan yang menyakitkan hatiku, jadi tak salah jika aku dari tadi marah-marah. Meskipun begitu Joni tetap tak menganggap itu persoalan penting. Dia berdiri dan memegang pundakku dan mengajakku duduk. “sudahlah, wanita memang seperti itu. Mungkin dia sudah bosan denganmu.” Mendengar kalimatnya aku langsung menatapnya dengan ketus. “nih, coba kau rasakan nikmatnya benda mungil ini!” Joni menyodorkan rokoknya kepadaku, “maaf, meski aku sedang ada masalah, tapi aku sudah janji pada ibuku untuk tidak merokok”. Aku menolak permintaannya, tetapi Joni tetap memaksaku untuk melakukannya.
            Joni terus memaksa, lama kelamaan bentengku untuk menolak akhirnya melemah dengan rayuan Joni. Dengan rasa ragu dan bimbang aku mengambil rokok di tangan Joni, ku tatap dengan penuh hati benda mungil yang mengeluarkan sedikit asap itu. “ayolah… coba saja! Nggak bakalan mati kok!” rayunya lagi lebih mendalam.
            Dan pada akhirnya akupun menghisap benda mungil itu. “uhk… uhk… uhk…” aku tersedak saat menghisapnya. “ha ha ha… enakkan?” Joni menertawakanku, sepertinya dia senang kali dengan keadaanku yang batuk-batuk. Aku menampakkan muka mrengutku padanya. “ayo, coba terus, memang begitu saat pertama kali mencoba rokok. Hisap pelan-pelan, rasakan asapnya melewati semua tulang-tulang tubuhmu dan keluarkan pelan-pelan” jelasnya dengan nada syahdu.
            Setelah dirasakan sepertinya memang enak juga rokok ini. Lalu aku menghisapnya yang kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya aku menghabiskan rokok milik Joni itu. Joni memang benar, setelah menghisap rokok itu dan merasakan asapnya seperti melintasi semua tulang-tulang ini, tubuhku terasa semakin ringan. Serasa semua masalah ku ikut tertiup angin bersama dengan asap rokok yang ku keluarkan dari mulutku.
            “Ini!” Joni memberikan ku sebatang rokoknya lagi, dan aku langsung menerimanya. Selanjutnya kami bersama-sama enjoy menikmati kopi dan rokok di tangan kami.
            Sejenak suasana menjadi sunyi. Joni yang biasanya banyak omong sekarang memilih untuk diam, mungkin dia  memberikan waktu untukku berpikir santai kembali, menghilangkan semua masalahku. Tak terasa jam tangan sudah menunjuk pukul satu siang. Memang sih sekarang hari minggu, tapi sudah kebiasaan ku untuk pulang tepat waktu, yakni jam satu siang.
            “Aku balik dulu lah!” kata ku sambil membuang punting rokok lalu menginjaknya. “balik? Nggak seru kau, masak masih jam satu sudah pulang. Sekarangkan hari minggu, hari untuk kita refreshing dari semua pelajaran membosankan di sekolah.” Sahut Joni seperti rasa tak setuju dengan kata ku. “terserahlah” balas ku ketus, seraya mulai meninggalkan Joni di warung.
            “Hoi!” teriak Joni. Dia melemparkan satu pack rokok L.A pada ku. Aku tidak tau apa maksudnya ini. “buat saku mu, nikmati hidupmu. Ingat kata ku, kau aktif kau mati, kau pasif kaupun juga akan mati. Jadi nikmati aja selama masih bisa.” Teriaknya lagi, kali ini dengan senyum yang menyemangati. Joni memang sahabat baikku mulai kami duduk di SMP hingga sekarang dia masih setia menemani aku dan mendengarkan semua masalahku dan membantunya. Meski terkadang dia juga tidak terlalu menghiraukanku.
            Sampai di rumah aku langsung ke kamar mandi mengambil wudlu lalu langsung melaksanakan sholat dhuhur. Sesudah itu aku berbaring terkapar di atas kasur kamarku, memikirkan semua yang terjadi hari ini. Bagaimana bisa Via mutusin aku? Kenapa dia mutusin aku? Apa alasannya? Kenapa dia bilang semua itu semudah itu pada ku. Seperti wajah tanpa dosa saja. Apa dia tidak menghargai semua apa yang telah kulakukan padanya.
            Aku tidak habis pikir semua itu terjadi begitu saja. Aku bangun dari tidur ku, dan menengok jendela kamarku yang menghadap langsung menuju taman depan rumah dan dilanjutkan ke jalan desa. Kulihat pohom jambu besar di sana, burung-burung terbang ke sana kemari dengan cerianya. Aku meraba saku ku hendak mengambil HP nokia ku disana, namun yang ke pegang bukanlah HP melainkan se-pack rokok L.A 16.
            Aku ambil sebatang rokok di dalamnya, ku pandangi rokok itu, tersirat pikiran aneh dalam otak ku, “padahal benda ini kecil, dan hanya berisi tembakau dan filter sebagai penyaringnya. Juga hanya bisa mengeluarkan asap yang membuat sesak di dada. Tapi kenapa banyak orang yang menyukainya? Dan kalau di pikir, aku mulai menyukai benda mungil ini.”
            Tak lama ku ambil korek api di meja tidurku, lalu menaruh sebatang rokok ku di mulut ku. Pelan-pelan ku hidupkan korek api itu dan ku dekatkan pada ujung batang rokok, lalu menyalah rokok di mulutku itu. Aku menghisapnya dalam-dalam, dan ku keluarkan secara perlahan asapnya dari mulutku. Ku bayangkan wajah Via di asap yang tertiup angin keluar melalui jendela kamarku.
            Tiba-tiba pintu kamar ku terbuka, ku lihat sepasang kaki mulai masuk melalui gang kecil itu. “Astaghfirullahal’adzim nak, cepat buang rokok itu! Kan Ibu dah bilang ke kamu jangan merokok, itu berbahaya buat kamu!” ternyata yang masuk ke kamarku adalah Ibuku. Ibu langsung marah-marah padaku saat melihat ku merokok. Memang aku di larang keras untuk melakukan hal itu.
            Apa kau nggak dengar nak? Cepet buang! Bapak aja nggak ngrokok, kamu yang masih SMA sudah ngrokok.” Teriaknya lagi sambil mendekatiku. Beliau merebut paksa rokok yang ada di tangan ku namun aku terus mengela. “Ibu kenapa sih? Ganggu orang lagi santai aja.” Balasku dengan ketus. “kau kan tau sendiri nak, kalau rokok itu akan membahayakan nyawamu.” Sempat terjadi perdebatan antara aku dan ibu. “kenapa sih bu aku nggak boleh merokok? Lagian meski nggak merokok aku pasti akan mati juga kan!? Ya lebih baik aku nikmati aja hidup ini, lagian aku juga masih tetap mgerjakan sholat, belajar, dan tidak sampai mabuk-mabukan, iya kan?” balas ku. “tapi tetap saja…” perkataan ibu ku potong tiba-tiba, “ya sudahlah aku mau keluar dulu. Aku mau nge-print tugas sekolah ku buat besok. Aku pergi dulu!” tanpa mengucapkan salam aku langsung keluar kamar dan bergegas pergi.
            Saat di halaman ku lihat ibu dari jendela rumahku, beliau terlihat sedih saat aku merokok, tidak tau kenapa aku di larang sangat keras untuk merokok. Tak mempedulikan itu aku langsung menuju warnet dekat rumah, dan meng-print out tugas bahasa Indonesia ku.
 Saat keluar dari warnet tiba-tiba “bruuuukkk…” aku tertabrak sepeda motor, stelah itu aku tidak sadar sama sekali. Setelah sadar aku sudah ada di klinik di desa ku. Di sampingku sudah ada ibuku yang berdiri menemaniku. Ku rasakan air matanya jatuh menetes di tanganku. “afwan ya ummi!” “la ba’tsa. Ini salah ibu, seharusnya Ibu tak memarahimu tadi.” Suara ibu terdengar begitu menyesal. Sungguh aku tak bisa melihatnya.
“kalau boleh tau, bapak meninggal karena apa bu? Sepertinya ibu menyembunyikan sesuatu yang tidak aku tahu?” Tanya ku penasaran. Bapak sudah meninggalkan aku sejak aku masih umur 3 bulan. Dan sampai sekarang aku masih belum tahu apa penyebab meninggalnya bapak. Jika di Tanya, ibu selalu menjawab, “belum saatnya kau tau. Dan sebaiknya kau tak pernah tau.” Dan sekarang aku bertanya lagi pada ibu, tapi apa kali ini ibu mau jujur apa tidak padaku.
“sepertinya memang saatnya kau tau semuanya tentang bapakmu.” Sepertinya ibu memang benar-benar mau jujur pada ku kali ini. “dulu waktu ibu baru menikah dengan bapak, bapak adalah seorang perokok aktif. Hari-harinya tak pernah ada namanya sepi akan rokok. Sampai saat ibu mengandungmu 9 bulan, bapak di fonis terkena kanker paru-paru akibat dari kebanyakan merokok. Hal itu sangat memukul ibu dan bapak. Dokter sudah meminta bapak untuk berhenti merokok, tapi bapakmu masih tetap saja merokok hingga pada usia mu yang ke 3 bulan, bapak menghembuskan nafas terakhirnya dengan rokok terakhirnya di tangannya. Itulah kenapa ibu melarang keras untukmu tidak merokok, ibu hanya takut kejadian itu terjadi untuk kedua kalinya.”
Tuhan, apa yang telah ku buat? Aku merasa bersalah sekali karena tak mendengar larangan ibu beberapa jam yang lalu. “maafkan Andrik karena tak mendengar larangan ibu. Andrik nggak tau bu kalau semua itu ada permasalahannya. Andrik berjanji tidak akan merokok lagi bu. Saat itu Andrik sedang ada masalah dengan Via, secara tiba-tiba dia mutusin Andrik tanpa sebab pasti bu, lalu Andrik marah-marah. Tapi saat di warung mbah Jem, Andrik di rayu Joni untuk merokok, awalnya memang nggak suka bu, tapi lama-kelamaan Andrik ketagihan. Maafkan Andrik bu.” Sesalku sambil ku peluk tubuh ibu.
Hangat. Begitu hangat pelukan  ibu. Dan itu masih ibu, belum bapak. Seandainya bapak masih hidup pasti aku akan bisa merasakan hangat damainya pelukan sebuah keluarga. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Ku peluk lebih erat lagi tubuh ibu, “sekali lagi, maafkan Andrik bu, maafkan anakmu yang telah menyakiti hati mu, Ibu!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar